Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Abraham Paul Liyanto Dorong Guru Perkuat Karakter Kebangsaan
Kota Kupang, Bidik NTT – Penguatan nilai-nilai kebangsaan dinilai tidak cukup dilakukan melalui sosialisasi yang bersifat seremonial. Peran guru sebagai pendidik dan pembentuk karakter generasi muda perlu diperkuat agar nilai-nilai Empat Pilar MPR RI dapat dipahami sekaligus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur (NTT), Ir. Abraham Paul Liyanto, dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang bekerja sama dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Kupang, Kamis (3/9/2026), di Aula Kampus UCB Kupang.
Kegiatan yang mengusung tema “Peringati Konstitusi Nasional Tahun 2026” tersebut membahas empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam keterangannya kepada wartawan, Abraham mengatakan sejak menjabat sebagai Ketua Badan Sosialisasi MPR RI pada 2024, dirinya mendorong perubahan pendekatan dalam sosialisasi Empat Pilar. Sasaran sosialisasi tidak hanya masyarakat secara umum, tetapi juga diarahkan secara lebih strategis kepada para guru.
Menurutnya, guru memiliki posisi penting karena nilai-nilai kebangsaan yang diperoleh dalam kegiatan sosialisasi dapat diteruskan kepada peserta didik melalui proses pembelajaran maupun keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
“Lebih bagus kita langsung kepada guru-guru ini, sehingga betul-betul mereka mulai memahami dan menghargai,” ujar Abraham.
Ia menjelaskan, strategi tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi. Salah satu bentuk implementasi yang didorong adalah lomba cerdas cermat terkait Empat Pilar, sehingga pemahaman mengenai kebangsaan dapat dikembangkan secara lebih interaktif sekaligus menjangkau generasi muda.
Abraham menilai langkah tersebut penting mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang besar dengan tingkat keberagaman yang tinggi. Kondisi tersebut, menurutnya, membutuhkan fondasi kebangsaan yang kuat agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh provokasi yang berpotensi mengganggu persatuan.
“Negara kita ini negara besar, negara kepulauan, sehingga rentan sekali terhadap provokasi. Karena itu, kita harus memperkuat pemahaman terhadap Pancasila dan nilai-nilai kebangsaan,” katanya.
Selain penguatan nilai kebangsaan, Abraham menekankan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia, tata kelola pemerintahan, serta pengelolaan sumber daya alam secara baik dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
“Kalau pendidikan bagus, rakyat sudah mempunyai pengetahuan yang sama. Kuncinya sumber daya manusia, tata kelola, dan sistem ketatanegaraan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa konstitusi merupakan landasan fundamental dalam kehidupan bernegara. Karena itu, pemahaman terhadap konstitusi perlu ditanamkan sejak lingkungan pendidikan agar generasi muda memahami hak, kewajiban, serta tanggung jawabnya sebagai warga negara.
PGRI: Guru Bukan Sekadar Pengajar
Sementara itu, Ketua PGRI Kota Kupang, Aplonia Dethan, S.Pd., M.Pd, menilai sosialisasi Empat Pilar memiliki urgensi tersendiri bagi kalangan pendidik. Menurutnya, guru tidak hanya bertugas menyampaikan pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk karakter dan wawasan kebangsaan peserta didik.
“Guru-guru itu sebagai pengembang pendidikan. Maka di situlah mereka harus paham, sehingga ketika mereka mengajarkan kepada peserta didik, ada karakteristik-karakteristik bangsa yang mereka tunjukkan dalam kegiatan sehari-hari,” ujar Aplonia.
Ia mengatakan pendidikan merupakan proses yang berlangsung sepanjang hayat. Karena itu, pemahaman terhadap sejarah, konstitusi, dan nilai-nilai kebangsaan perlu terus diperkuat, salah satunya melalui kegiatan sosialisasi seperti yang dilaksanakan bersama MPR RI.
Dalam kegiatan tersebut, sekitar 250 guru hadir, melampaui target awal sebanyak 200 peserta. Namun, jumlah tersebut belum merepresentasikan keseluruhan tenaga pendidik di Kota Kupang yang jumlahnya lebih dari 7.000 orang, belum termasuk guru TK dan PAUD.
Aplonia menyebut sosialisasi Empat Pilar yang bekerja sama dengan PGRI Kota Kupang telah dilaksanakan sekitar dengan peserta yang berbeda. Ke depan, PGRI akan terus mendorong pelaksanaan kegiatan serupa secara bertahap agar semakin banyak tenaga pendidik memperoleh pemahaman mengenai nilai-nilai kebangsaan.
Menurutnya, semakin kuat pemahaman guru terhadap Pancasila, konstitusi, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, semakin besar pula peluang nilai-nilai tersebut ditanamkan secara nyata kepada peserta didik. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menghasilkan generasi yang memiliki kompetensi akademik, tetapi juga generasi yang memiliki karakter, kesadaran konstitusional, serta komitmen untuk menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (HT)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles